Pages

Sunday, September 30, 2018

Laporan Praktikum "Titrasi Asam Basa"

LAPORAN HASIL PRAKTIKUM
“TITRASI ASAM BASA”
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA PELAJARAN KIMIA


KELOMPOK : XI MIPA 5
·         MUHAMMAD RAIHAN INDRAGUNA


SMA NEGERI 2 CIAMIS
Pemerintahan Kabupaten Ciamis
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Jln. K.H. A. Dahlan No. 2 tlp. 771709 Ciamis
Tahun Pelajaran 2017/2018



 

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang  telah memberikan rahmat, serta karunianya, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan sederhana ini.
Selain itu saya mengucapkan terima kasih kepada :
1.     Ibu  selaku wali kelas XI IPA 5.
2.     Ibu  selaku guru mata pelajaran Kimia.
Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi tugas pelajaran Kimia. Kami menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna sempurnanya laporan ini.
Semoga dengan adanya laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca serta dapat dijadikan acuan untuk membuat laporan lebih baik lagi kedepannya.



                                                         Ciamis, 13 Februari 2018



Penulis





DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................... 2
DAFTAR ISI...................................................................................... 3
BAB 1 PEDAHULUAN.................................................................... 4
1.1                                                                                                                                                                                                                                                           Latar Belakang.................................................................................................. 4
1.2                                                                                                                                                                                                                                                           Tujuan   4
1.3                                                                                                                                                                                                                                                           Manfaat 4
BAB 2 KAJIAN PUSTAKA............................................................. 5
2.1  Landasan Teori......................................................................... 5
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN........................................... 6
3.1  Alat dan Bahan......................................................................... 6
3.2  Cara Kerja................................................................................. 6
BAB 4 HASIL PENELITIAN........................................................... 7
4.1  Pembahasan.............................................................................. 7
BAB 5 PENUTUP.............................................................................. 8
5.1                                                                                                                                                                                                                                                          Kesimpulan      8
5.2                                                                                                                                                                                                                                                          Saran      8
LAMPIRAN-LAMPIRAN................................................................ 9












BAB 1
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Dalam menentukan kadar asam cuka, emtode titrasi yang digunakan adalah titrasi asam basa. Titrasi asam basa adalah penentuan kadar suatu larutan basa dengan larutan asam yang diketahui kadarnya atau sebaiknya, dengan didasarkan pada reaksi netralisasi.
Titrasi harus dilakukan hingga mencapai titik ekivalen, yaitu keadaan dimana asam dan basa tepat habis bereaksi secara stoikiometri. Titik ekivalen umumnya dapat ditandai dengan perubahan warna dari indikator.
1.2Tujuan
a.       Untuk menentukan kadar cuka dapur atau menentukan konsentrasi suatu larutan asam.
b.      Untuk menentukan persentasi cuka dapur serta cuka yang sudah tercampur oleh air dengan bantuan PP
1.3Manfaat
Dengan adanya percobaan/penelitian yang dilakukan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan siswa menjadi lebih bertambah dalam menentukan konsentrasi asam/basa dari suatu larutan yang diujikan sehingga diharapkan dapat bermanfaat pada kehidupan sehari-hari.




BAB 2
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori
Titrasi merupakan suatu metode untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi asam-basa adalah titrasi yang melibatkan asam maupun basa sebagai titer (zat yang telah diketahui konsentrasinya) maupun titrant (zat yang akan ditentukan kadarnya) dan berdasarkan reaksi penetralan asam-basa. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan larutan basa yang telah diketahui kadarnya, dan sebaliknya kadar larutan basa dapat diketahui dengan menggunakan larutan asam yang diketahui kadarnya. Titik ekuivalen yaitu pH pada saat asam dan basa (titrant dan titer) tepat ekuivalen atau secara stoikiometri tepat habis bereaksi. Titrasi yang menyandarkan pada jumlah volume larutan disebut titrasi volumetri.
Secara teknis, titrasi dilakukan dengan cara mereaksikan sedikit demi sedikit larutan penitrasi melalui buret, ke dalam larutan yang akan dititrasi dalam labu Erlenmeyer. Kondisi pada saat terjadi perubahan warna indikator disebut titik akhir titrasi. Titik akhir titrasi diharapkan mendekati titik ekuivalen titrasi, yaitu kondisi pada saat larutan asam habis bereaksi dengan larutan basa. Penderajatan antara titik akhir titrasi dan titik ekuivalen titrasi bergantung pada pH perubahan warna dari larutan indikator. Jika perubahan warna indikator terletak pada pH titik ekuivalen, maka titik akhir titrasi sama dengan titik ekuivalen. Akan tetapi, jika perubahan warna terjadi setelah penambahan larutan penitrasi yang berlebih, maka titik akhir titrasi berbeda dengan titik ekuivalen. Perbedaan antara titik titrasi dengan titik ekuivalen disebut kesalahan titrasi. Besar kecilnya kesalahan titrasi ditentukan oleh pemilihan indikator. Jika indikator yang digunakan tepat, maka kesalahan titrasinya kecil. Titrasi asam oleh basa kuat dan sebaliknya mempunyai titik ekuivalen pada pH 7. Titik ekuivalen titrasi asam lemah oleh basa kuat terjadi pada pH antara 8 dan 9. Sementara titik ekuivalen titrasi basa lemah oleh asam kuat berada pada pH asam.
Jenis-jenis titrasi asam-basa
1.      Asam kuat-basa kuat
2.      Asam kuat-basa lemah
3.      Asam lemah-basa kuat
4.      Asam kuat-garam dari asam lemah
5.      Basa kuat-garam dari basa lemah.



BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Alat dan Bahan
Alat dan Bahan yang digunakan :
Bahan :
1.      Air
2.      NAOH 0,1 M
3.      PP (Indikator Penok Talein)
4.      Cuka Dapur “diksi”

Alat :
1.      Buret
2.      Klem dan statif
3.      Gelas elemeyer
4.      Gelas ukur
5.      Gelas kimia
6.      Air suling

3.2 Cara Kerja
Pertama cuka dimasukan ke dalam tabung ukur, berukuran 50 ml, cuka yang dimasukan sebanyak 5 ml dilarutkan dengan air hingga mencapai 50 ml. Kemudian, dimasukan ke dalam gelas ukur berukuran 100 ml dicampur dengan air lagi hingga 100 ml. Kemudian dibagi menjadi 3. Didalam gelas elemeyer masing-masing 25 ml. Kemudian disimpan dibawah buret setelah itu diberi 2-3 tetes PP. Setelah itu buka keran sedikit demi sedikit dan digoyang-goyang dicampurkan NAOH. Kemudian secara perlahan campuran air cuka, PP, dan NAOH akan berubah menjadi warna merah muda.



BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1       Pembahasan
Pengamatan :
Percobaan ke-
Volume Cuka
Volume NAOH
1
25
100
2
25
117
3
25
100
Rata-rata
25
105,7


“Berapa cuka dapur yang kamu teliti?”
Jawab :
1.      Vcp x Mcp                   =          Vce x Mce
5 ml x 25%                =          100 ml. Mce
Mce                            =          125/100
1,25%

2.      Vc x Mc         =          V NaOH x M NaOH
25 ml x Mc    =          105,7 x 0,1 M
25 ml x Mc    =          10,57
          Mc       =          0,42 M

3.      Diketahui kadar cuka murni =17,4 M
% cuka = Mc x 100/17,4 M
            = 0,42 x 100/17,4 M
            = 42/17,4
            = 2,41%



BAB 4
PENUTUP
4.2  Kesimpulan
Titrasi adalah prosedur untuk untuk menentukan kadar (konsentrasi) suatu larutan berdasarkan reaksi asam basa dengan larutan yang sudah diketahui kadarnya.
Perhitungan pH dalam melakukan parktikum dapat ditentukan dengan mencari rata-rata dari larutan NaOH yang digunakan untuk menaikan kadar atau konsentrasi HCL. Titrasi harus dihentikan bila larutan HCl yang dicampurkan dengan 2 tetes indikator berubah warna dari bening hingga menjadi pink. Volume NaOH yang digunakan akan mempengaruhi hasil konsentrasi dari HCl tersebut, sehingga harus sangat berhati-hati melakukan praktikum ini. Setelah volume NaOH (basa) diketahui, barulah konsentrasi HCl (asam) bisa dihitung.
4.3  Saran
Dalam melakukan praktikum, sebaiknya harus berhati-hati dalam menggunakan larutan-larutan yang ada di laboratorium dan dalam melakukan praktikum kali ini kita juga harus memperhatikan ketelitian dalam mengukur volume larutan basa (NaOH), karena volume larutan NaOH sangat mempengaruhi hasil konsentrasi HCl.





LAMPIRAN-LAMPIRAN

Pengaruh Lamanya Penyinaran Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Cabai Merah

PENGARUH LAMANYA PENYINARAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN TANAMAN CABAI MERAH (Capsicum annuum L)


Oleh,
Muhammad Raihan Indraguna
Kelas XII MIPA 5

PEMERINTAHAN PROVINSI JAWA BARAT
DINAS PENDIDIKAN
KANTOR CABANG DINAS PENDIDIKAN WILAYAH XIII
SMA NEGERI 2 CIAMIS
Jln. K.H. Ahmad Dahlan No. 2 Tlp. (0265)771709 Ciamis, 46216



LEMBAR PENGESAHAN
Laporan penelitian yang berjudul “Pengaruh Lamanya Penyinaran Terhadap Pertumbuhan Dan Perkembangan Tanaman Cabai Merah (Capsicum Annuum L)” Tugas Ini Ditujukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Pelajaran Biologi pada Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2018/2019. Yang disahkan pada
Hari                 : Jum’at
Tanggal           : 07 September 2018




Telah disetujui dan disahkan oleh :


Wali Kelas                               Guru Mata Pelajaran Biologi



  
NIP :                                                    NIP : 

ABSTRAKSI
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan pertumbuhan dan perkembangan cabai merah yang diberi perlakuan berbeda, yaitu tanaman cabai merah yang disinari cahaya selama 0 jam, disinari cahaya selama 1 jam dan disinari cahaya selama 0 jam. Dengan mempertimbangkan media pupuk sebagai variabel bebasnya. Subjek penelitian ini berupa cabai merah yang pertumbuhan dan perkembangannya dapat dilihat dengan mudah dan juga dengan teratur.
Dari percoban yang dilakukan akan terlihat tumbuhan cabai yang memiliki laju pertumbuhan dan perkembangan paling cepat. Dari hipotesis yang sudah dibuat dan dari penelitian yang sudah dilakukan berdasarkan eksperimen maka data kuantitatif dari laju pertumbuhan tanaman serta data deskriftif dipaparkan dalam laporan ini.



KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang  telah memberikan rahmat, serta karunianya, sehingga saya dapat menyelesaikan laporan sederhana ini.
Selain itu saya mengucapkan terima kasih kepada :
1.      Ibu  selaku wali kelas XII IPA 5.
2.      Ibu  selaku pembimbing sekaligus guru mata pelajaran Biologi.
Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Biologi. Saya menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu saya sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna sempurnanya laporan ini.
Semoga dengan adanya laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca serta dapat dijadikan acuan untuk membuat laporan lebih baik lagi kedepannya.

                                                                        Ciamis, 30 Agustus 2018



Penulis



DAFTAR ISI
halaman
LEMBAR PENGESAHAN............................................................... ii
ABSTRAKSI..................................................................................... iii
KATA PENGANTAR....................................................................... iv
DAFTAR ISI...................................................................................... v
BAB I PEDAHULUAN..................................................................... 1
1.1                                                                                                                                                                                                                                                           Latar Belakang Masalah..................................................................................... 1
1.2                                                                                                                                                                                                                                                           Identifikasi Masalah..................................................................................... 1
1.3                                                                                                                                                                                                                                                           Batasan Masalah.................................................................................................. 2
1.4                                                                                                                                                                                                                                                           Rumusan Masalah                                                                                                   2
1.5                                                                                                                                                                                                                                                           Tujuan Penelitian.................................................................................................. 2
1.6                                                                                                                                                                                                                                                           Manfaat Penelitian.................................................................................................. 3
BAB II KAJIAN PUSTAKA/LANDASAN TEORI......................... 4
2.1                                                                                                                                                                                                                                                           Kajian Teoritis 4
2.2                                                                                                                                                                                                                                                           Kerangka Pemikiran................................................................................. 12
2.3                                                                                                                                                                                                                                                           Hipotesis         12
BAB III METODOLOGI PENELITIAN........................................ 13
3.1                                                                                                                                                                                                                                                           Waktu dan Tempat Penelitian.................................................................................. 13
3.2                                                                                                                                                                                                                                                           Metode dan Rancangan Penelitian............................................................... 13
3.3                                                                                                                                                                                                                                                           Populasi dan Sampel Penelitian..................................................................... 13
3.4                                                                                                                                                                                                                                                           Instrumen Penelitian.................................................................................. 14
3.5                                                                                                                                                                                                                                                           Metode Pengumpulan Data................................................................... 15
3.6                                                                                                                                                                                                                                                           Teknik Analisis Data.......................................................................................... 15
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN........................................... 17
4.1                                                                                                                                                                                                                                                           Hasil Penelitian................................................................................................. 17
4.2                                                                                                                                                                                                                                                           Analisis Data  18
4.3                                                                                                                                                                                                                                                           Pengujian Terhadap Hipotesis.................................................................. 21
4.4                                                                                                                                                                                                                                                           Pembahasan Penelitian.................................................................................. 22
BAB V PENUTUP............................................................................ 23
5.1                                                                                                                                                                                                                                                           Kesimpulan     23
5.2                                                                                                                                                                                                                                                           Saran     23
DAFTAR PUSTAKA....................................................................... 24
LAMPIRAN-LAMPIRAN............................................................... 25


BAB 1
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
                      Cabai (Capsicum annum L) merupakan salah satu komoditas sayuran yang banyak dibudidayakan oleh petani di Indonesia karena memiliki harga jual yang tinggi dan memiliki beberapa manfaat kesehatan yang salah satunya adalah zat capsaicin yang berfungsi dalam mengendalikan penyakit kanker. Selain itu kandungan vitamin C yang cukup tinggi pada cabai dapat memenuhi kebutuhan harian setiap orang, namun harus dikonsumsi secukupnya untuk menghindari nyeri lambung.
Tumbuhan memiliki banyak faktor yang berpengaruh bagi kelangsungan hidupnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pertumbuhan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal terdiri atas genetika (hereditas) dan hormon. Sedangkan faktor eksternal meliputi cahaya, suhu, nutrien (pupuk), dan kelembapan.
                      Pertumbuhan tanaman cabai dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah lamanya penyinaran cahaya matahari terhadap benih cabai yang akan ditanam. Penelitian ini akan menghasilkan tanaman cabai merah yang diberi perlakuan berbeda yaitu yang disinari oleh cahaya matahari selama 0 jam, 1 jam d
1.2  Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis mengidentifiksikan beberapa masalah yang akan dijadikan bahan penelitian selanjutnya.
·         Pengaruh lamanya penyinaran cahaya matahari terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai merah,
·         Perbedaan pertumbuhan dan perkembangan pada cabai merah yang diberi perlakuan berupa sinar matahari 1 jam dan 6 jam serta tanaman cabai merah yang tidak disinari matahari
1.3  Batasan Masalah
Untuk mencegah melebarnya pembahasan  masalah dan untuk menjaga agar pembahasan tetap sesuai dengan tujuan penelitian, maka pembahasan pada penelitian ini dibatasi pada hal-hal sebagai  berikut :
·         Pertumbuhan yang diamati terbatas hanya pada batang di atas permukaan tanah sampai ujung pucuk daun.
·         Faktor lingkungan yang dianggap mempengaruhi pertumbuhan hanya faktor lamanya penyinaran cahaya matahari
·         Jenis tumbuhan yang diamati adalah cabai merah.
1.4  Rumusan Masalah
Dalam laporan ini kami membatasi penelitian sebagai berikut
·         Spesifikasi dari cabai merah
·         Pengertian pertumbuhan
·         Pengertian perkembangan
·         Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
·         Hormon-hormon yang mempengaruhi pertumbuhan
·         Hasil dari penelitian dari faktor lamanya penyinaran cahaya dalam pertumbuhan tanaman cabai
·         Penjelasan singkat pengaruh dari faktor tersebut
1.3 Tujuan Penelitian
·         Untuk mengetahui spesifikasi cabai merah
·         Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman cabai
·         Untuk mengetahui bagaimana pertumbuhan tanaman cabai dari faktor yang diterapkan
1.5  Manfaat Penelitian
·        Diketahuinya spesifikasi tanaman cabai
·        Diketahuinya penjelasan dari faktor luar yang diterapkan pada tanaman cabai
·        Kita jadi lebih mengetahui hormon yang mempegaruhi pertumbuhan
BAB 2
KAJIAN PUSTAKA/LANDASAN TEORI
2.1 Kajian Teoritis
Klasifikasi Tanamana Cabe Merah
·         Kingdom / kerajaan                      : Plantae ( Plant )
·         Sub kingdom / kerajaan               : Tracheabionta ( Vascular Plants )
·         Super division / super divisi         : Spermatophyta ( Seed Plant )
·         Division /divisi                             : Magnoliophyta ( Flowering Plant )
·         Classing / kelas                             : Magnolipsida ( Dycotyledons)
·         Sub classis / sub kelas                  : Asteredae
·         Ordo / bangsa                               : Solanales
·         Famili /suku                                  : Solanaceae ( Potato family )
·         Genus / marga                              : Capsicum L. ( pepper )
·         Species / jenis spesies                   : Capsicum annuum L
·         Binominal Name / Nama latin      : Capsicum annuum L
·         Common Name / Nama umum    : Cayenne Pepper ( Chili Pepper )
2.1.1 Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan adalah suatu proses pertambahan ukuran, baik volume, bobot, dan jumlah sel yang bersifat irreversible (tidak dapat kembali ke asal). Bertambah besar ataupun bertambah berat tanaman atau bagian tanaman akibat adanya penambahan unsur-unsur struktural yang baru. Peningkatan ukuran tanaman yang tidak akan kembali sebagai akibat pembelahan dan pembesaran sel. Misalnya, dalam ukuran sel, jaringan, organ perkembangan (Development) diartikan sebagai : Proses perubahan secara kualitatif atau mengikuti pertumbuhan tanaman/bagian-bagiannya. Proses ini terjadi karena adanya pembelahan mitosis pada jaringan meristematis. Arti meristematis adalah selnya selalu membelah, jaringan meristematis berada di ujung akar dan ujung daun. Dan pertumbuhan juga dapat diukur atau dengan istilah lainnya adalah kuantitatif.
Perkembangan adalah perubahan atau diferensiasi sel menuju keadaan yang lebih dewasa. Proses menuju tercapainya kedewasaan dan pematangan sel yang diikuti adanya deferensiasi sel. Perkembangan bersifat kualitatif sehingga tidak dapat diukur. Contoh perkembangan adalah seperti munculnya bunga sebagai alat perkembang-biakan, dengan adanya bunga tersebut memberikan pertanda bahwa tumbuhan itu telah dewasa. Adapun deferensiasi sel adalah perubahan yang terjadi pada sel, jaringan dan organ untuk membentuk struktur dan fungsi tertentu.
Pertumbuhan primer merupakan pertumbuhan dasar yang dapat terjadi akibat adanya aktivitas pembelahan sel pada jaringan meristem primer. Terjadi karena adanya aktivitas di jaringan apikal (meristematik primer). Pertumbuhan ini terjadi secara bertahap di tiga daerah. Yaitu daerah pembelahan (proliferasi), pemanjangan (elongasi), dan daerah diferensiasi.  Jaringan meristem primer ini berada pada daerah titik tumbuh primer yaitu ujung akar dan ujung batang. Pada jaringan meristem terdapat titik atau bagian yang aktif membelah. Setelah proses perkecambahan, tumbuhan mengalami pertumbuhan dan perkembangan lebih lanjut. Tumbuhan akan membentuk akar, batang, dan daun. Ujung batang dan ujung akar akan tumbuh memanjang karena adanya aktivitas sel-sel meristematis. Proses ini disebut pertumbuhan primer. Sel-sel meristem dapat juga berdiferensiasi menjadi sel-sel yang memiliki struktur dan fungsi yang khusus.
Pertumbuhan sekunder merupakan pertumbuhan yang terjadi akibat adanya aktivitas jaringan meristem sekunder yang terdapat pada tumbuhan. Adanya aktivitas di jaringan kambium (meristematik sekunder). Pembelahan kambium ke arah luar akan membentuk floem sekunder. Sementara pembelahan ke arah dalam, akan membentuk xylem sekunder. Pohon-pohon yang ada di sekitar kita diameternya menjadi lebar.  Setelah meristem primer membentuk jaringan permanen, kemudian meristem sekunder mengalami pertumbuhan sekunder. Pertumbuhan sekunder hanya terjadi pada tumbuhan dikotil, yaitu pembentukan kambium yang terbentuk dari parenkim atau kolenkim.
2.1.2 Perkecambahan secara Epygeal dan Hypogeal
Perkecambahan atau germinasi ditandai dengan keluarnya bakal akar/radikal dari kulit biji. Selama proses ini berlangsung terjadi mobilisasi cadangan makanan dari jaringan penyimpanan atau keping biji ke bagian vegetatif yaitu sumbu pertumbuhan embrio atau lembaga.
1.      Perkecambahan epygeal adalah sebuah proses perkecambahan dimana pertumbuhan hipokotil dari biji tersebut memanjang yang membuat kotiledon dan juga plumula dari biji tersebut terangkat ke permukaan tanah. Sehingga posisi kotiledon atau keping biji berada di atas tanah. Proses perkecambahan ini biasanya terjadi pada tumbuhan-tumbuhan berjenis dikotil. Salah satu tumbuhan yang memiliki proses perkecambahan epigeal adalah kacang hijau.
2.      Perkecambahan hypogeal adalah proses pertumbuhan memanjang dari epikotil biji yang membuat plumula dari biji tersebut muncul ke permukaan tanah. Sementara, kotiledon dari biji itu tetap berada di dalam tanah. Pada umumnya, proses perkecambaan hipogeal ini terjadi pada tumbuhan yang berjenis monokotil. Salah satu contoh tumbuhan yang mengalami proses perkecambahan hipogeal adalah jagung.
2.1.3 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan
·         Faktor Internal
1. Gen
Gen merupakan substansi pembawa sifat yang diturunkan dari induk ke generasi selanjutnya. Gen mempengaruhi ciri dan sifat makhluk hidup dimana pada tanaman mempengaruhi bentuk tubuh, warna bunga, dan rasa buah. Gen juga menentukan kemampuan metabolisme sehingga sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman tersebut. Tanaman yang memiliki gen tumbuh yang baik akan tumbuh dan berkembang cepat sesuai dengan periodenya.
Meskipun faktor dari gen sangat penting, namun faktor ini bukan satu-satunya yang menentukan pola pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Di samping itu ada faktor lingkungan yang ikut berpengaruh. Misalnya pada tanaman yang memiliki sifat unggul, hanya dapat tumbuh dengan cepat, berbuah lebat, dan rasanya manis di lahan yang subur dan kondisinya sesuai. Bila ditanam di lahan tandus dan kondisinya tidak sesuai, pertumbuhan dan perkembangan tanaman ini tidak akan optimal.
2. Hormon
Hormon merupakan zat yang berperan dalam mengendalikan berbagai fungsi di dalam tubuh. Meskipun jumlahnya sedikit, hormon memberikan pengaruh nyata dalam pengaturan berbagai proses dalam tubuh. Hormon yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada tanaman ada beragam jenisnya.
·         Faktor Eksternal
1. Cahaya
Cahaya mutlak diperlukan dalam proses fotosintesis. Cahaya secara langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan setiap tanaman. Pengaruh cahaya secara langsung dapat diamati dengan membandingkan tanaman yang tumbuh dalam keadaan gelap dan terang. Pada keadaan gelap, pertumbuhan tanaman mengalami etiolasi yang ditandai dengan pertumbuhan yang abnormal (lebih panjang), pucat, daun tidak berkembang, dan batang tidak kukuh. Sebaliknya, dalam keadaan terang tumbuhan lebih pendek, batang kukuh, daun berkembang sempurna dan berwarna hijau. Dalam fotosintesis, cahaya berpengaruh langsung terhadap ketersediaan makanan. Tumbuhan yang tidak terkena cahaya tidak dapat membentuk klorofil, sehingga daun menjadi pucat.
2. Temperatur (Suhu)
Temperatur sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tumbuhan. Hal ini karena berkaitan dengan aktivitas enzim dan kandungan air dalam tubuh tumbuhan. Semakin tinggi temperatur, semakin besar pula transpirasi. Akan tetapi, kandungan air dalam tubuh tumbuhan akan semakin rendah sehingga proses pertumbuhan akan semakin lambat. Temperatur yang rendah dapat memecahkan masa istirahat pucuk atau biji. Perlakuan temperatur yang rendah akan memacu pembentukan ruas yang lebih panjang daripada ruas dari tumbuhan yang tumbuh di daerah bertemperatur tinggi. Perlakuan dengan temperatur dapat merangsang perkecambahan biji, peristiwa ini dinamakan vernalisasi.
3. Kandungan Air
Air merupakan senyawa yang sangat penting bagi tumbuhan. Air berfungsi membantu reaksi kimia dalam sel. Selain itu, air menunjang proses fotosintesis dan menjaga kelembapan. Kandungan air yang terdapat dalam tanah berfungsi sebagai pelarut unsur hara sehingga unsur hara tersebut mudah diserap oleh tumbuhan. Selain itu, air memelihara temperatur tanah yang berperan dalam proses pertumbuhan. Pertumbuhan akan berlangsung lebih aktif pada malam hari daripada siang hari karena pada malam hari kandungan air dalam tubuh tumbuhan lebih tinggi daripada siang hari.
4. Makanan (Nutrisi)
Semua makhluk hidup membutuhkan makanan (nutrisi) untuk sumber energi. Unsur yang diperlukan tumbuhan dalam jumlah besar yang disebut elemen makro atau unsur makro. Elemen makro terdiri atas karbon, oksigen, hidrogen, nitrogen, sulfur, fosfor, kalium, dan magnesium. Selain itu, ada elemen yang disebut elemen mikro atau unsur mikro seperti besi, klor, tembaga, seng, molibdenum, boron, dan nikel. Elemen mikro adalah unsur yang diperlukan tumbuhan dalam jumlah sedikit
5. Kelembapan
Tanah lembap sangat cocok untuk pertumbuhan, terutama saat perkecambahan biji. Hal ini karena tanah lembap menyediakan cukup air untuk mengaktifkan enzim dalam biji serta melarutkan makanan dalam jaringan. Tingkat pengaruh kelembapan udara atau tanah pada tumbuhan berbeda-beda. Ada tanaman yang membutuhkan kelembapan udara dan kelembapan tanah yang tinggi, misalnya lumut hati. Sebaliknya, ada juga tanaman yang tumbuh dengan baik pada dengan kelembapan udara dan tanah kelembapan rendah, misalnya Aloe vera (lidah buaya) dan beberapa jenis tanaman anggrek.
6. Ph Tanah
Derajat keasaman atau pH tanah sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman. Contohnya tanah yang bersifat asam terhadap tanah padsolik merah kuning (PMK), agar tanaman dapat tumbuh dengan baik maka jenis tanah ini ditambahkan keasaman dengan pengapuran.
2.1.4 Hormon-hormon yang Mempengaruhi Pertumbuhan
1. Hormon Auksin
Hormon auksin merupakan senyawa kimia Indol Asetic Acid (IAA) dihasilkan dari sekresi pada titik tumbuh yang terletak pada ujung tunas (terdiri atas batang dan daun), ujung akar, daun muda, bunga, buah, dan kambium. Jika hormon auksin berada di ujung tunas, maka akan diangkut oleh jaringan berkas pembuluh (xilem dan floem) menuju ke tunas untuk tumbuh dan pemanjangan sel-sel jaringan batangnya.
2. Hormon Giberelin
Hormon giberelin secara alami terdapat pada bagian tertentu tumbuhan yaitu pada buah dan biji saat berkecambah. Hormon giberelin berperan dalam dominansi apikal, pemanjangan sel, perkembangan buah, perbungaan, dan mobilisasi cadangan makanan dari dalam biji. Giberelin juga ikut berpengaruh terhadap pembentukan akar tumbuhan karena giberelin umum terdapat di bagian meristematik pada akar.
3. Hormon Sitokinin
Sitokinin merupakan hormon tumbuh yang terdapat pada tubuh tumbuhan. Sitokinin dibentuk pada sistem perakaran. Fungsi hormon tersebut adalah:
·         Merangsang pertumbuhan akar sehingga lebih cepat memanjang
·         Mempercepat pelebaran daun
·         Perangsang pertumbuhan tanaman ke arah samping dan pucuk tanaman
·         Merangsang aktivitas pembelahan sel
·         Membantu perkecambahan biji
4. Asam Abisat
Asam absisat (ABA) merupakan penghambat (inhibitor) dalam kegiatan tumbuhan. Hormon ini dibentuk pada daundaun dewasa. Asam absisat mempunyai peran fisiologis diantaranya adalah:
·         Mempercepat absisi bagian tumbuhan yang menua, seperti daun, buah dan dormansi tunas.
·         Menginduksi pengangkutan fotosintesis ke biji yang sedang berkembang dan mendorong sintesis protein simpanan.
·         Mengatur penutupan dan pembukaan stomata terutama pada saat cekaman air.
5. Gas Etilen
Gas etilen adalah suatu gas yang dihasilkan oleh buah yang sudah tua sehingga buah menjadi matang. Fungsi etilen adalah menyebabkan buah menjadi masak, menyebabkan pertumbuhan batang menjadi kokoh dan tebal, dapat memacu pembungaan, yang bekerja bersamaan dengan auksin dan bersama giberelin dapat mengatur perbandingan bunga betina dan jantan pada tumbuhan berumah satu.
6. Kalin
Hormon kalin berfungsi untuk memacu pertumbuhan organ tumbuhan diantaranya :
·         Rhizokalin, dapat memacu pertumbuhan akar.
·         Kaulokalin, dapat memacu pertumbuhan batang.
·         Fitokalin, dapat memacu pertumbuhan daun.
·         Anthokalin, dapat memacu pertumbuhan bunga.
·         Asam traumalin ini berfungsi untuk merangsang penutupan luka pada batang karena kerusakan jaringan. Sel-sel di daerah luka akan dirangsang oleh asam traumalin untuk aktif melakukan pembelahan sel (meristematik) sehingga luka akan dapat ditutup kembali.
2.1.5 Pengaruh Lamanya Penyinaran Cahaya Terhadap Pertumbuhan Tanaman
Intensistas cahaya matahari berpengaruh terhadap sifat fisiologis tanaman, yaitu laju fotosintesis, laju transpirasi, pertumbuhan memanjang dan pertumbuhan ke arah sinar matahari, serta perkecambahan benih.
Proses fotosintesis pada tanaman dilakukan di siang hari dikala matahari menyinari bumi. Dengan menggunakan cahaya matahari tumbuhan mengubah gas karbondioksida dan unsur-unsur mineral dalam tanah serta air untuk menghasilkan gula (glukosa) dan oksigen. Proses ini dilakukan oleh zat hijau daun bernama klorofil yang berada di daun dan dilindungi oleh lapisan lilin untuk mencegah penguapan. Gula hasil fotosintesis disimpan tumbuhan sebagai cadangan energi, dan oksigen sebagai hasil sampingannya.
Gula yang telah dibuat kemudian digunakan oleh tumbuhan untuk proses metabolismenya. Pemanfaatan energi gula oleh tumbuhan memerlukan serangkaian proses sehingga energi yang ada dalam bentuk gelombang elektromagnetik tersebut dapat diubah menjadi energi kimia (ATP dan NADPH) yang  dikenal dengan reaksi terang.  Hasil reaksi terang ini (ATP dan NADPH) selanjutnya dapat dimanfaatkan dalam reaksi metabolisme khususnya reduksi CO2.
Reaksi fotosintesis terdiri atas dua tahapan yaitu : tahapan Reaksi Terang ( disebut juga Reaksi Hill ) dan Reaksi Gelap ( disebut juga Reaksi Blackman atau siklus Calvin ). Masing-masing tahapan menunjukkan proses reaksi yang berbeda. Namun keduanya merupakan satu rangkaian reaksi  yang tak terpisahkan dari reaksi fotosintesis.
2.2 Kerangka Pemikiran
Pengaruh lamanya penyinaran cahaya terhadap pertumbuhan dan perkembangan yang terjadi pada tanaman cabai, dilakukan selama satu bulan.
2.3 Hipotesis
·        Kemungkinan tanaman cabai yang disinari cahaya matahari selama 0 jam akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang lambat
·        Kemungkinan tanaman cabai yang disinari selama 1 jam akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang lebih cepat dan lebih tinggi daripada yang disinari cahaya matahari selama 0 jam
·        Kemungkinan tanaman cabai yang disinari selama 6 jam akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang lebih cepat dan lebih tinggi daripada yang disinari cahaya matahari selama 0 jam dan 1 jam
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Waktu penelitian         : 27 Juli 2018 – 25 Agustus 2018
Tempat                        : Halaman rumah
3.2 Metode dan Rancangan Penelitian
Dalam proses penelitian pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai merah ini saya menggunakan metode eksperimen dan penelitian yang dilakukan selama satu bulan
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian
3.3.1 Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah ke 3 buah polubag yang masing masing terdiri dari 5 biji tanaman kacang merah yang diberi pupuk kompos, urea dan tanpa diberi pupuk dengan penjabaran sebagai berikut
Tabel 3.3.1.1      
Data kacang merah di 3 polybag yang diberi perlakuan lamanya penyinaran matahari berbeda

NO
Nama Polybag
Jumlah Kacang
Perlakuan terhadap tanaman
1.
Polybag 1
2 biji
Penyinaran selama 0 jam
2.
Polybag 2
2 biji
Penyinaran selama 1 jam
3.
Polybag 3
2 biji
Penyinaran selama 6 jam

Berdasarkan perlakuan terhadap tanaman, didalam tabel terdapat 3 perlakuan berbeda yaitu pada masing-masing polybag yang telah di tentukan.
3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel penelitian ini adalah tanaman cabai merah yang terdapat dalam polybag sebagai bahan eksperimen. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik eksperimen dan penelitian praktis yaitu teknik teknik yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian serta adanya kontrol.
Dalam penelitian ini, tahapan yang dilakukan oleh peneliti yaitu, (1) melakukan penyinaran cahaya matahari selama 0 jam pada polybag 1, satu jam pada polybag 2, dan enam jam pada polybag 3 (2) kemudian peneliti mengamati dan mengukur pertumbuhan serta perkembangan tanaman cabai merah per 3 hari, sehingga pada akhirnya dapat mengetahui pengaruh dari lamanya penyinaran cahaya matahari, dari perlakuan yang berbeda tersebut dapat diketahui pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai merah
3.4 Instrumen Penelitian
·         Variabel bebas               : Lamanya penyinaran yang diperlakukan berbeda beda yaitu lamanya penyinaran sinar matahari selama 0 jam, 1 jam dan 6 jam
·         Variabel terikat              : Morfologi tanaman cabai merah, pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai merah
·         Variabel kontrol             : Benih cabai merah, media tanam berupa tanah serta polybag.
Alat                 : Sekop kecil
Bahan             : Pupuk, tanah, benih cabai, polibag
Cara kerja        :
·         Isi polybag yang sudah dilubangi kecil untuk tempat keluarnya air, dengan campuran pupuk dan tanah dengan perbandingan 1:2
·         Taburkan 5 benih cabai yang sudah disinari dengan cahaya matahari, pada tiga polybag
·         Setiap polybag diberi dua buah benih cabai merah
·         Beri nama pada polybag sesuai dengan lamanya penyinaran benih tadi
3.5 Metode Pengumpulan Data
1.      Internet
Mencari berbagi sumber dari internet.
2.      Eksperimen
Penelitian percobaan yang berusaha untuk mengisolasi dan melakukan kontrol setiap  kondisi-kondisi yang relevan dengan situasi yang diteliti kemudian melakukan pengamatan terhadap efek taua pengaruh ketika kondisi-kondisi tersebut  dimanipulasi.
3.      Deskriftif
Metode penelitian yang ditujukan untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, yang berlangsung saat ini atau saat yang lampau.
4.      Teori Dasar
Pendekatan yang memungkinkan peneliti untuk mengembangkan atau menemukan teoriyng didasarkan pada studi fenomena.
5.      Penelitian Praktis
Bentuk penelitian yang berisi berbagai macam prosedur untuk mengurai kasus-kasus yang bersifat mikro atau khusus.
3.6 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data ada dua, yaitu teknik analisis data kuantitatif dan teknik analisis data kualitatif. Bagi data yang bersifat kuantitatif (numerical) tentu saja analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif dengan ukuran-ukuran statistik. Untuk analisis data kuantitatif dalam penggunaan statistik deskriptif dapat disesuaikan dengan ruang lingkup yang hendak dicapai. Teknik analisis data kuantitatif berbeda dengan kualitatif. Dalam teknik analisis data menggunakan statistik, terdapat dua macam statistik yang digunakan pada data kuantitatif, yaitu statistik deskriptif dan inferensial.
Dalam penelitian ini saya menggunakan teknik analisis deskriptif yang penjabarannya sebagai berikut :
·         Mengukur nilai rata-rata tinggi tanaman cabai merah
·         Mengukur tinggi tanaman cabai merah
·         Penyajian data berupa Tabel, Grafik, dan Deskriptif



BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Hasil penelitian berupa tanaman cabai dengan tinggi yang berbeda beda. Pada polybag 1 penyinaran cahaya matahari selama 0 jam, pada polybag 1 penyinaran cahaya matahari selama satu, pada polybag 1 penyinaran cahaya matahari selama enam jam.
Tabel penelitian pertumbuhan tanaman cabai merah
Tabel 4.1.1
Tanggal
Hari ke
Perlakuan (Lamanya Penyinaran)
0 Jam
1 Jam
6 Jam
27 Juli 2018
0
0 cm
0 cm
0 cm
29 Juli 2018
3
0 cm
0 cm
0,2 cm
1 Agustus 2018
6
0,7 cm
0,8 cm
1,3 cm
4 Agustus 2018
9
2  cm
2,2 cm
3 cm
7 Agustus 2018
12
3,1 cm
3,5 cm
4,6 cm
10 Agustus 2018
15
4,6 cm
5,1 cm
6,2 cm
13 Agustus 2018
18
5,3 cm
6,5 cm
7,8 cm
16 Agustus 2018
21
6,2 cm
8,2 cm
9,3 cm
19 Agustus 2018
24
7,4 cm
9,8 cm
11,1 cm
22 Agustus 2018
27
8,7 cm
11,5 cm
12,8 cm
25 Agustus 2018
30
10 cm
13,1 cm
14,3 cm



4.2 Analisis Data
Tabel Perkembangan pada Keadaan dan Kualitas Tanaman
a. Polybag 1 (Disinari cahaya selama 0 jam)
Tabel 4.2.1
Hari ke -
Perkembangan
0
Belum terjadi perkembangan apapun
3
Belum terjadi perkembangan apapun
6
Muncul tunas berupa akar dari benih cabai merah
9
Batang dan dua buah daun mulai muncul dari benih cabai
12
Pertumbuhan batang mulai terlihat, dengan spesifikasi yang kecil dan daun yang relative sama
15
Pertumbuhan batang, dengan spesifikasi yang kecil dan daun yang relative sama
18
Pertumbuhan batang mulai terlihat, dengan spesifikasi yang kecil dan daun yang sedikit sedikit melebar berukuran sedikit lebih besar dai sebelumnya
21
Perkembangan dan pertumbuhan batang yang memanjang serta daun berubah menjadi hijau
24
Perkembangan dan pertumbuhan batang yang memanjang serta daun sudah menampakan tulang tulang daun
27
Perkembangan dan pertumbuhan batang yang memanjang serta daun berubah menjadi hijau tua
30
Perkembangan dan pertumbuhan batang yang memanjang, mulai tumbuh daun baru berukuran sangat kecil

b. Polybag 2 (Disinari cahaya selama 1 jam)
Tabel 4.2.2
Hari ke -
Perkembangan
0
Belum terjadi perkembangan apapun
3
Belum terjadi perkembangan apapun
6
Muncul tunas berupa akar dari benih cabai
9
Dua buah daun mulai muncul dari benih cabai
12
Pertumbuhan batang mulai terlihat, dengan spesifikasi yang kecil dan daun yang relative sama
15
Pertumbuhan batang, dengan spesifikasi yang kecil dan daun yang relative sama
18
Pertumbuhan batang, dengan spesifikasi yang kecil dan daun yang sedikit sedikit melebar berukuran sedikit lebih besar dari sebelumnya
21
Perkembangan dan pertumbuhan batang yang memanjang serta daun berubah menjadi hijau
24
Perkembangan dan pertumbuhan batang serta daun muda muncul
27
Perkembangan dan pertumbuhan batang, daun muda yang melebar dari sebelumnya serta daun yang lainnya semakin melebar dan berubah sedikit hijau
30
Perkembangan dan pertumbuhan batang dan daun dengan spesifikasi daun daun yang menghijau dari sebelumnya

c. Polybag 3 (Disinari cahaya selama 6 jam)
Tabel 4.2.3
Hari ke -
Perkembangan
0
Belum terjadi perkembangan apapun
3
Muncul tunas berupa akar dari benih cabai
6
Pertumbuhan dan perkembangan batang dan daun
9
Pertumbuhan batang dan perkembangan daun dengan spesifikasi daun yang mulai melebar
12
Pertumbuhan batang secara spesifik mulai meninggi, serta daun yang sudah tampak tulang daun dan berwarna kehijauan
15
Pertumbuhan dan perkembangan batang, daun
18
Pertumbuhan batang serta mulai muncul daun muda kecil
21
Perkembangan dan pertumbuhan batang yang memanjang serta daun muda tadi mulai membesar dengan warna agak pucat
24
Perkembangan dan pertumbuhan batang serta daun muda muncul
27
Perkembangan dan pertumbuhan batang, daun muda yang melebar dari sebelumnya serta daun yang lainnya semakin melebar dan berubah sedikit hijau
30
Perkembangan dan pertumbuhan batang dan daun dengan spesifikasi daun daun yang menghijau dari sebelumnya, serta daun muda lain mulai muncul lagi

Grafik 4.2.1
4.3 Pengujian Terhadap Hipotesis
Dari hipotesis yang telah dibuat, bahwa dalam penelitian ini terbukti bahwa :
·         Pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai yang disinari cahaya matahari selama 0 jam mengalami pertumbuhan sedikit lebih lambat dari yang lainnya
·         Pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai yang disinari cahaya matahari selama 1 jam mengalami pertumbuhan dan perkembangan lebih cepat daripada yang disinari cahaya selama 0 jam
·         Pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai yang disinari cahaya matahari selama 6 jam mengalami pertumbuhan dan perkembangan lebih cepat daripada yang disinari cahaya selama 0 jam dan 1 jam
4.4 Pembahasan Penelitian
Dari penelitian yang sudah dilakukan terlihat bahwa tanaman cabai merah yang disinari cahaya matahari selama 6 jam mengalami pertumbuhan yang cepat dibandingkan dengan tanaman cabai yang disinari cahaya selama satu jam dan 0 jam. Salah satu penyebab nya adalah benih yang disinari cahaya matahari selama 0 jam tidak mendapatkan rangsangan dari luar berupa cahaya matahai. Sedangkan pada benih cabai merah yang disinari selama satu jam mendapat rangsangan cahaya matahari lebih daripada yang disinari selama 0 jam. Pada benih cabai yang disinari cahaya matahari selama enam jam mendapat asupan cahaya matahari lebih banyak dan membuat benih cabai tidak terlalu lembab serta dapat tumbuh dengan cepat karena bantuan dari rangsangan cahaya matahari tersebut.
BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengkajian dan pegamatan maka dapat penulis ambil kesimpulannya sebagai berikut :
·         Cahaya merupakan faktor lingkungan yang sangat penting sebagai sumber energi utama bagi ekosistem
·         Cahaya matahari adalah sumber energi utama bagi kehidupan seluruh makhluk hidup di dunia
Peran cahaya terhadap tumbuhan antara lain:
1.      Fotoperiodisme adalah respon dari suatu organisme terhadap lamanya penyinaran sinar matahari
2.      Fotoenergetic adalah pertumbuhan yang dipengaruhi oleh banyaknya energy yang diserap dari sinar matahari oleh bagian tanaman
3.      Fotodestruktif adalah tingginya intensitas cahaya yang mengakibatkan fotosintesis semakin tidak bertambah lagi dikarenakan tanaman mengalami batas titik jenuh cahaya sehingga bukan menjadi sumber energy tetapi sebagai perusak
4.      Fotomorfogenesis adalah Pengendalian morfogenesis oleh cahaya
5.      Fototropisme adalah pergerakan pertumbuhan tanaman yang dipengaruhi oleh rangsangan cahaya
5.3             Saran
Diperlukan ketelitian dalam proses penelitian, agar data kuantitatif lebih akurat. Serta perlu kepahaman agar penelitian bisa berjalan dengan lancar.
DAFTAR PUSTAKA
Safitri, Ririn. 2016. Buku Paket Biologi Peminatan Matematika dan Ilmu - Ilmu Alam. Surakarta:Mediatama.




LAMPIRAN